Belum Ada Kepastian, Hanya Harapan yang Ada (Part.1)

7:22 PM

Miris sekali harus menerima semua kenyataan ini di malam yang seharus aku mendapatkan dukungan dari orang yang bisa membuatku yakin bahwa mimpiku bisa menjadi nyata dan bisa aku capai. Semua ini terjadi begitu saja. Sedih? Tak usah ditanyakan lagi. Hanya karena se-isi rumah yang aku tinggali selama ini memiliki masalah serius didalamnya itu sangat berpengaruh dan menghambat impianku. Sangat aku akui bahwa di rumah yang aku tinggali selama ini memiliki kendala komunikasi satu dengan yang lain. Mereka lebih senang menyimpan omongan mereka dan menerima kekacau yang terjadi karena susah berkomunikasi. Masalah komunikasi dalam rumah itu adalah masalah yang sangat serius bagiku, karena kalau tidak ada tindakan dari penghuni rumah itu maka setiap masalah kecil akan menjadi rumit.
"Aku ingin menjadi Psikolog". Itu yang sering aku ucapkan kepada teman-temanku. Tetapi kalian tahu? Untuk mengucapkan kalimat sederhana itu didepan orang yang aku panggil Mama Papa itu akan menjadi sulit. Jika kalian tahu bahwa kata-kata itu tak ingin orangtua kalian dengar dari mulut kalian.
Sebenarnya mereka sangat mendukungku dulu untuk mencapai keinginanku. Tetapi aku hanya manusia. Manusia kalau sedang di atas sering lupa siapa dirinya sebenarnya. Jadi kesuksesan yang kubuat di sekolah itu adalah kesuksesan karena kerajinanku. Dan kalau menurutku dulu aku tak begitu rajin. Karena KERAJINAN BUKAN DARI KEMAMPUAN/SKILL yang kumiliki. Karena hal bodoh itulah yang membuatku sedikit besar kepala pada saat itu.
Berulang kali aku coba tetapi hasilnya nol sehingga aku harus menempuh hidup dengan penuh keabu-abuan. Coba kalian tembak. Sudah sekian kali aku mengikuti tes untuk mewujudkan keinginanku dan untuk sekian kali pula aku masuk ke lubang yang sama.
Pada saat mencoba yang terakhir kalinya dan itu bukan keinginanku, kalian tahu? Aku berhasil dengan jurusan yang membuatku abu-abu. Jujur pada saat itu aku bangga dengan keberhasilan itu. Coba kalian bayangkan mencoba hal yang sama tetapi tidak ada hasil sama sekali. Jadi wajarlah di kala itu aku bangga.
Belum satu bulan aku menjalaninnya, aku mulai kepikiran dengan ambisiku yang dulu. Satu semester kulalui dengan keraguan dan membuat hasil yang tak begitu membuatku yakin itu bagus. Sedikit ada perkembangan, aku mulai yakin kalau aku menginginkan ambisiku, aku harus berbelok dari jalur yang sudah aku jalani. Semester kedua, masih kujalani dengan keraguan tetapi keraguan itu tak sebanyak yang dulu. Aku sedikit bersemangat dengan ambisiku sehingga membuatku selama proses perkuliah dan melalui MID agak sedikit membuatku kembali ragu seperti yang kualami di semester satu.
Aku berpikir, kalau aku gagal lagi maka tidak hanya satu yang telah aku sia-siakan tetapi begitu banyak yang akan aku buang begitu saja. Jadi begitu UAS aku berusaha kembali kejalan yang memang harus aku lewati. Tetapi aku masih yakin dengan ambisiku.

You Might Also Like

0 komentar